Tampilkan postingan dengan label tugas individu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas individu. Tampilkan semua postingan

Tugas Individu 3.

Senin, 08 Maret 2010 07.40 by Rahmi Zuraida's bLog 60 komentar

Persahabatan, Bagaikan Sehelai Sapu Tangan...

Teman...
sadarkah kau akn pertalian ini?
Bermaknakah perjalanan ini bagimu?

Teman..
Bagiku pertemuan kita adalah sehelai sapu tangan,
yang setia..
Selalu bersama mengusap peluh yang mengalir,Menyeka tangis yang mendera,
Selalu ada di setiap mendung yang tiba,
hingga menghantar pelangi disisi ku..

Teman..
Aroma helaian sapu tangan itu,
inginku agar angin mengendusnya,
Agar dunia tau,
betapa menyerbaknya wangi helaian itu,
sewangi perjalanan kita,
seindah pelangi pemberianmu,
Biarkan angin mengendus wangi helaian itu,
agar sadar lingkungan ini atas keberadaanmu untukku,
Izinkan aku menyimpanmu dalam hati ku,
dan tak seorang pun ku izinkan untuk menggantikannya..

Izinkan bibir ini berujar,
bahwa kau lah sapu tanganku,
Pelangi jiwa ku,
dan,
Kau sahabatku,
Sahabat sejatiku....


















Persahabatan dapat terbentuk dimanapun dan kapanpun. Tak perduli berasal darimana ataupun dari keluarga siapa. Persahabatan terjadi begitu saja, tanpa ada syarat atau ketentuan apapun.

Persahabatan juga tidak mengenal waktu.
Ada yang memulainya sedari kecil, di bangku sekolah bahkan di bangku kuliah. Sekolah menjadi sarana penghubung persahabatan ini. Kesamaan karakter dan hal lainnya menjadi sesuatu hal yang membangun keterikatan kami, tetap dapat keep in touch walaupun jarak memisahkan.
Begitu juga dengan Fakultas Psikologi, disinilah kami semua bertemu untuk pertama kalinya.
Berkumpul secara tidak sengaja di hari pertama kuliah, dan berlanjut hingga sekarang dan berharap ini akan bertahan sampai kami beruban dan berkeriput kelak.

Persahabatan itu bagaikan kepompong.
Awalnya ia bukanlah hal yang indah, banyak perselisihan yang kadang terjadi tetapi jika kita dapat melaluinya dengan baik, maka ulat itu pasti akan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah.
Apa yang kita lakukan demi teman, terkadang menjengkelkan dan melelahkan tapi itulah yang membuat persahabatan menjadi indah. Di dalam persahabatan terkadang ada cobaan, namun persahabatan yang solid akan mampu mengatasi cobaan itu.
Sahabat bukanlah selalu membenarkan apa yang kita katakan, tetapi mengatakan apa yang benar untuk kita.
Semua orang membutuhkan sahabat, tetapi tidak semua orang mendapatkannya. ada yang sudah merasakan bagaimana indahnya persahabatan, tetapi juga ada yang merasakan bagaimana dikhianati sahabat.

Namun, secara keseluruhan, ingatkah kamu siapakah yang selalu berada di sampingmu ketika kamu mengalami kesulitan??
Siapa yang selalu menguatkanmu disaat orang lain tidak memperdulikanmu??
Siapa yang selalu mengingatkanmu untuk tidak berbuat sesuatu yang merugikan dirimu sendiri karena mereka memang tahu bagaimana sebenarnya kemampuanmu untuk menghadapinya??

MEREKA ADALAH SAHABATMU..

Jadi, jagalah sahabatmu dan jangan sia-siakan mereka.
Karena mereka adalah orang-orang yang sangat memahamimu selain orangtua mu..
^.^

Ketika Semua Kegiatan Dilakukan Dengan Berbasis Komputerisasi; tugas 2

Sabtu, 20 Februari 2010 23.20 by Rahmi Zuraida's bLog 2 komentar
Dari dulu hingga sekarang, sudah begitu banyak hal-hal yang berkembang apalagi yang berkaitan dengan teknologi. Dahulu ketika belum berkenalan dengan teknologi, semua kegiatan kita masi bersifat konvensional. Mulai dari kegiatan perkantoran, pemerintahan, dan lain sebagainya. Begitu juga dengan sistem pendidikan kita yang juga mengalami perubahan. Dulu, sistem pendidikan kita masih bersifat konvensional. Pendidik menjelaskan materi belajar dengan cara tatap muka dan ceramah. Jika ada praktikum, maka akan dilakukan di laboratorium. Untuk materi-materi tambahan, bisa didapatkan dari buku-buku pegangan yang ada di perpustakaan atau toko buku. Untuk zaman sekarang, ketika semua informasi sudah berkembang dengan sangat pesat, sudah pasti sangat tidak efektif jika hanya mengandalkan informasi hanya dari buku pegangan sekolah.

E-Learning
Karena sistem pendidikan yang bersifat tatap muka dan ceramah ini terbatas oleh ruang dan waktu, terlebih juga teknologi juga semakin meningkat, maka untuk beberapa institusi pendidikan pemerintah maupun nonpemerintah menerapkan sistem e-learning untuk mengatasi masalah keterbatasan ruang dan waktu ini. E-learning tidak tergantung pada ruang dan waktu. Pembelajaran dapat dilakukan dimana saja dan siswa juga dapat mengakses pembelajaran kapanpun dan dari manapun. Jadi para siswa dapat mengumpulkan tugas tanpa harus bertemu dengan guru, wawasan siswa juga bisa berkembang tidak hanya terpusat pada informasi yang itu-itu saja. E-learning tidak membutuhkan ruangan yang luas sebagaimana ruang kelas konvensional, ini membuat teknologi ini telah memperpendek jarak antara pengajar dan peserta didik.

Ubiquitous Computing
Sekarang komputer sudah mulai banyak dipergunakan. Ketika dulu satu komputer dipakai bersama-sama oleh beberapa orang, sekarang satu orang sudah mempunyai satu komputer. Sekarang kita berada di era komputer pribadi (PC). Untuk berikutnya, dipercaya kita akan menuju ke era ketiga—yaitu era ubiquitous computing, yang menekankan pada penggunaan komputer kepada lingkungan bukan personal. Nantinya, kita tidak akan menyadari bahwa semua kegiatan yang kita lakukan berbasis komputer. Komputer berada di balik layar lingkungan kehidupan kita.
Ini pasti akan memudahkan kita dalam melakukan segala hal, semuanya dilakukan secara otomatis hanya kita saja yang mengoperasikannya.

Antara U-learning dan E-learning.
Bisa dikatakan bahwa u-learning adalah inovasi atau perkembangan terbaru era ketiga dari e-learning yang selama ini sudah akrab di telinga kita.
Dimasa depan, komputer dekstop digantikan oleh perangkat yang portable, kecil, mobile dan murah. Jika hal ini diterapkan ke sistem pendidikan kita, hal ini akan membawa banyak keuntungan. Saya membaca sebuah komen dari mahasiswa ITB di forum mahasiswa UNNES (Universitas Negeri Semarang) yang mengemukakan ide tentang ubiquitous learning di dalam kampus. Konsepnya adalah dengan memasukkan komputer menjadi elemen ubiquitous atau embeded system (komputer yang sudah tertanam disuatu alat). Jadi, kedepannya adalah dunia digital dimana semua akan terhubung dengan yang namanya IP (Internet Protokol), dengan cara seperti ini maka akan bisa menjadi lebih mobile. Jadi kita tidak perlu lagi mengikuti kelas, cukup menggunakan perangkat yang ada dirumah misal cable TV atau media lainnya yang dengan itu kita bisa mengikuti kelas dari seorang dosen.
Ini adalah contoh dari konsep u-learning tersebut, sungguh konsep yang menarik walaupun terkesan aneh jika dibayangkan. Tetapi inilah teknologi, ia selalu berkembang dengan pesatnya.

Ketika semua hal sudah dilakukan dengan berbasis komputasi seperti ini, sudahkah kita menjalankannya dengan maksimal?
Mungkin belum semua melaksanakannya dengan maksimal, karena pasti masih ada orang-orang yang belum terbiasa dengan sistem seperti ini. Namun, tidak ada salahnya untuk dari sekarang terus membiasakan diri dengan teknologi yang berbasis komputasi jika tidak ingin negara kita tertinggal oleh negara lain yang sudah mulai menerapkan ubiquitous computing secara bertahap di dalam pekerjaan dan sistem pendidikan mereka.

Sumber Referensi:
  • Santrock, John W, 2008. Psikologi Pendidikan Edisi Kedua, Jakarta: Kencana.
  • Munir, 2008. Kurikulum Berbasis Teknologi dan Informasi, Bandung: Alfabeta

Perlukah Ujian Nasional Dilaksanakan?; tugas 1

Senin, 08 Februari 2010 05.27 by Rahmi Zuraida's bLog 0 komentar

Banyak fenomena yang terjadi di dunia pendidikan, salah satunya adalah Ujian Nasional. Inilah satu fenomena yang setiap tahunnya pasti di bahas di banyak media massa. Ujian Nasional setiap tahunnya selalu menjadi momok yang paling besar pada setiap siswa. Apalagi setiap tahunnya standar untuk kelulusan selalu dinaikkan. Banyak orang yang berpikiran bahwa jika tidak lulus Ujian Nasional, si anak akan di cap bodoh. Mereka pasti berpikir, ”masa untuk lulus ujian nasional saja tidak mampu?”. Ini merupakan persepsi yang salah.

Dulu di sekolah saya, diantara 1300 murid kelas XII ada 15 orang yang tidak lulus. Saya termasuk dari 1285 orang yang lulus. 15 orang siswa-siswi yang tidak lulus ini bukan lah anak yang bodoh dikelasnya. Diantara 15 orang tersebut ada salah satu teman saya, bukan teman sekelas, tetapi saya kenal baik. Saya tahu dia bukanlah dia anak yang bodoh, tergolong pintar walaupun dalam kategori sedang. Kerja keras saya belajar dalam persiapan menuju UN ini dibayar dengan kelulusan saya dengan nilai yang sangat baik. Tidak dipungkiri, ada juga bantuan dari ”pihak ketiga” yang berperan disini. Semua orang pasti tahu, pelaksanaan UN tidak selalu sepenuhnya jujur. Begitu juga dengan sekolah saya, setiap tahun kami mendapat jawaban soal dari salah satu yayasan pendidikan di kota kami, ini menjadi langganan setiap tahunnya tersebar dari mulut ke mulut melalui siswa-siswi.

Jika kecurangan yang seharusnya ”menguntungkan” itu terjadi, kenapa juga tetap ada yang tidak lulus? Kemungkinan ada beberapa hal yang menyebabkan kenapa ada murid yang pintar tetapi tidak lulus UN. Pertama, siswa mungkin cenderung meremehkan hal-hal yang sebenarnya harus sangat diperhatikan, seperti menjaga Lembar Jawaban Komputer tetap bersih.

Kedua, kesalahan informan memberikan kunci jawaban. Kecurangan ini sudah menjadi rahasia umum. Disaat pemerintah menaikkan standar kelulusan untuk menaikkan standar kecakapan siswa dalam belajar, disisi lain pihak sekolah melakukan segala cara agar seluruh muridnya lulus 100%. Hal ini dilakukan agar pamor sekolahnya tidak turun. Kecurangan ini juga terjadi di sekolah saya, bisa dikatakan ini adalah sebuah tradisi tiap tahunnya agar sekolah kami lulus 100% walaupun target ini tidak selalu terpenuhi.

Tes Standar

Tes standar mengandung prosedur yang seragam untuk menentukan nilai administrasinya. Tes standar bisa membandingkan kemampuan murid dengan murid lain pada pada usia atau level yang sama, biasanya dilakukan di tingkat nasional. Biasanya kita sebut dengan ujian nasional atau ujian negara. Biasanya bertujuan untuk:

  • Memberikan informasi tentang kemajuan murid.
  • Mendiagnosis kekuatan dan kelemahan murid.
  • Memberikan bukti untuk penempatan murid dalam program khusus.
  • Memberi informasi untuk merencanakan dan meningkatkan pengajaran atau instruksi.

Banyak kritik terhadap Ujian Nasional (Ujian Negara):

  • Menumpulkan kurikulum dengan penekanan lebih besar pada hafalan ketimbang pada keahlian berpikir dan memecahkan masalah.
  • Mengajar demi ujian.
  • Diskriminasi terhadap murid dari status sosial ekonomi (SES) rendah dan minoritas.

Kelemahan ujian negara juga terletak dalam hal validitas yang diambil dari hasil ujian.

Pengalaman Belajar

Pengalaman belajar menunjukkan kegiatan belajar yang perlu dilakukan oleh peserta didik dalam berinteraksi dengan sumber belajar untuk mencapai penguasan kemampuan dan materi pembelajaran. Dapat diperoleh melalui kegiatan di dalam dan di luar kelas. Contoh di dalam kelas adalah interaksi antara peserta didik dan sumber belajar, seperti bedah buku dan percobaan di laboratorium. Contoh di luar kelas adalah mengamati apa yang ada disekitarnya. Pengalaman belajar ini sebaiknya dikombinasikan dengan hal-hal yang berbau teknologi, seperti e-learning. Peserta didik tidak hanya mendapat materi belajar dari buku-buku pegangan, tetapi juga dari situs-situs pendidikan yang kita miliki, seperti situs e-dukasi.net. Banyak materi-materi baru yang kita dapat di situs ini. Ini bisa menjadi salah satu penunjang siswa untuk menghadapi UN.

Berdasarkan pengalaman saya saat di bangku sekolah, ketika duduk di kelas X SMA, sekolah kami sudah mulai memakai perangkat komputer dan jaringan internet. Pihak sekolah menyediakan satu ruangan khusus untuk perangkat komputer yang kami sebut dengan ”Laboratorium Komputer”. Pada saat itu, jaringan internet ini sama sekali tidak bisa diandalkan untuk searching atau browsing materi-materi pelajaran seperti di situs e-dukasi.net dengan koneksi cepat. Pemakaian komputer pun masih hanya sebatas pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi saja, seperti Microsoft Windows dan bagaimana cara membuat database. Perangkat penunjang pembelajaran ini hanya digunakan sekali seminggu saja, bahkan sistemnya pun juga belum maksimal. Ini sama sekali tidak berpengaruh, ada atau tidak adanya perangkat komputer, sistem belajar kami juga masih konvensional seperti biasa tidak berbasis kepada teknologi.

Jadi, perlukah Ujian Nasional ini dilaksanakan? Banyak yang beranggapan ujian ini tidak perlu dilaksanakan karena tidak kunjung membuat kualitas pendidikan kita membaik, apalagi dengan banyaknya kecurangan-kecurangan yang terjadi. Sesuatu hal yang percuma. Bukankah lebih baik, jika sistem penilaian UN ini diubah. Tidak dinilai hanya berdasarkan angka-angka cemerlang yang dihasilkan sang anak. Tetapi juga memperhatikan aspek moral. Siswa atau siswi mana yang sebenarnya pantas untuk diluluskan dan menjadi generasi bangsa yang cemerlang. Tentu saja generasi yang cemerlang itu adalah siswa-siswi yang mendapatkan nilai bagus, disamping itu memiliki moral yang baik pula.


Sumber Referensi:

  • Santrock, John W, 2008. Psikologi Pendidikan, Edisi Kedua. Jakarta: Kencana.
  • Munir, M.IT,2008. Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta.